Kepala Bidang Politik
Dalam Negeri Soegeng Rijadi Prayitno, SH, mewakili Kepala Bakesbangpol Kota
Mojokerto Anang Fahruroji, S.Sos, M.Si, mengajak kepada seluruh peserta
sarasehan untuk bergerak menyuarakan pilkada damai, menjaga persatuan dan
kesatuan, serta tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu SARA. Soegeng
menegaskan penggunaan isu SARA dalam pilkada dapat menimbulkan banyak kegaduhan
dan memecah belah bangsa. Himbauan untuk tidak
menggunakan politik uang juga disuarakan Soegeng Prayitno. Ia berharap pilkada
serentak di Kota Mojokerto menjadi contoh yang terbaik pelaksanaannya yang
mencerminkan pemilukada yang bersih, proses demokrasi yang berkualitas dan
terintegritas. Itulah yang diharapkan Soegeng ketika membuka acara Sarasehan
Peningkatan Kesadaran Politik, Rabu (25/4/2018) bertempat di Gedung Dharma
Wanita, Jalan Hayam Wuruk. Sarasehan yang diikuti
50 (lima puluh) peserta dari unsur partai politik, mengambil tema “Politik Uang
dan Politisasi SARA adalah Racun Demokrasi“ Untuk itu mari kita lawan dan kita
jauhi, karena itu “politik uang dan politik transaksional harus mulai kita
hindari dan kita tinggalkan untuk mewujudkan demokrasi yang beradab dan
berkualitas. Mudah-mudahan anti politik uang dan sara ini diharapkan dapat
menjadi sejarah awal dan titik balik guna menghadapi pilkada yang bersih”.
Papar Soegeng.
Ditambahkan,
Bakesbangpol menjelang pemilukada tahun 2018 ini memastikan bahwa komunikasi
intens harus terus dilakukan kepada partai politik, seperti melalui sarasehan
ini komunikasi intens harus dibangun agar ada keselarasan dengan semua partai
pollitik serta menerima aspirasi dari masyarakat. Soegeng yakin bahwa melalui
komunikasi dan diskusi yang baik dalam sarasehan parpol ini akan membuahkan
hasil yang baik, insya Alloh baik untuk partai politik dan untuk warganya.
Sebagai kader politik tunjukkan kepada masyarakat, kita semua harus memiliki
komitmen yang sama, komitmen kita adalah negara kita makin ke depan makin
bersih, integritasnya makin baik sehingga bisa terbebas dari perilaku korupsi. Hadir sebagai narasumber
Linggar dari Unair Surabaya menjelaskan tentang upaya menjadikan pemilu
sepenuhnya milik rakyat mendapatkan banyak tantangan, diantaranya adalah maraknya
politik uang, ujaran kebencian dan kasus-kasus penghinaan, penghasutan dan adu
domba yang dilakukan aktor-aktor
politik untuk kepentingan kemenangan. Padahal undang-undang telah secara tegas
melarang politik uang. Untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia, serta tegaknya pilkada dan pemilu yang
berintegritas maka kita harus sepakat pertama, menolak dan melawan politik uang
dan penghinaan terhadap seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon dan atau
peserta pemilu yang lain serta penghasutan dan adu domba dalam penyelenggaraan
pilkada 2018. Kedua, melawan intimidasi, ujaran kebencian dan berita bohong
(hoax)
karena dapat mengurangi kualitas dan integritas penyelenggaraan pilkada dan
pemilu. (My).
No comments:
Post a Comment