MOJOKERTO – (GEMA –
MEDIA) – Rajab merupakan bulan yang mengandung keberkahan. Umat
islam dianjurkan untuk meraih berkah tersebut. Keberkahan bahkan tersebar di
dua bulan setelah Rajab yaitu Sya’ban dan Ramadan. Tiga bulan ini memang
istimewa bagi umat Islam.Sepanjang Rajab, kita sangat dianjurkan untuk
memberbanyak amalan sholeh. Contohnya semakin giat sholat sunah, puasa sunah,
membaca Alquran, berzikir, bersedekah, dan lain sebagainya. Kata Dra. Hj. Nur
Hidayah Ketua Pengajian Wanita Alkholifah Kota Mojokerto dalam acara
pembinaan rohani dan mental Anggota Pengajian Wanita Alkholifah,
Kamis (14/3/2019) bertempat di ruang Data PKK Kota Mojokerto. Nurhidayah
menambahkan dalam bulan rajab juga terdapat anjuran untuk berdoa memohon
panjang umur. Ini semata agar kita dapat bertemu dengan tiga bulan berkah
tersebut. Rosulluloh Nabi Muhammad SAW mempunyai doa yang dibaca setiap bulan
rajab tiba. “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna
Ramadhana.Artinya,” Ya Allah, berkatilah kami pada Rajab dan
Sya’ban dan sampaikan kami dengan Ramadan.”Doa ini agar kita dipertemukan
dengan Rajab, Sya’ban dan Ramadan.
“kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan keimanan Anggota Alkholifah di Mojokerto ini menghadirkan Ustadz H. Rubani dengan taushiyah “ Kunci meraih cinta Allah dan manusia “.Zuhud adalah kunci untuk meraih cinta Allah dan sesama manusia. Imam Nawawi dalam al-Arba’in an-Nawawi mencatat sebuah hadis perihal zuhud yang diriwayatkan Ibnu Abbas. Dari Ibnu Abbas, Sahl ibn Sa’d as-Saidi mengisahkan, seseorang pernah datang kepada Rasulullah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal perbuatan yang jika kulakukan, aku dicintai Allah dan dicintai sesama manusia.” Rasulullah menjawab, “Berzuhudlah dengan dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan berzuhudlah dengan apa yang dimiliki orang lain, niscaya engkau dicintai mereka.” Zuhud tak berarti hidup miskin dan hina. Sederhana saja, Imam Ahmad mendefinisikan zuhud dengan tidak serakah dan tidak menginginkan harta yang dimiliki orang lain. Ketika dunia ada dalam genggaman, ia tidak terlenakan oleh kenikmatan itu. Seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf, keduanya mampu memanfaatkan kelebihan rezeki dari Allah untuk mendukung perjuangan Islam. Orang yang miskin belum tentu zuhud, sedangkan orang yang kaya belum tentu tak zuhud. Sebab, zuhud hakikatnya tampak dalam sikap seseorang terhadap harta yang diberikan Allah. “Orang zuhud adalah jika mendapat nikmat, ia bersyukur dan jika ditimpa musibah, ia bersabar. Karena itu, orang zuhud senantiasa mendapati hidupnya dalam ketenangan. Dunia adalah fana, sedangkan akhirat abadi. Seorang hamba yang zuhud menyadari bahwa rezeki setiap hamba telah ditetapkan di sisi-Nya. Rezeki tidak akan bertambah atau berkurang, sekalipun kita mengejarnya dengan cara-cara yang tidak halal.(yuk).
“kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan keimanan Anggota Alkholifah di Mojokerto ini menghadirkan Ustadz H. Rubani dengan taushiyah “ Kunci meraih cinta Allah dan manusia “.Zuhud adalah kunci untuk meraih cinta Allah dan sesama manusia. Imam Nawawi dalam al-Arba’in an-Nawawi mencatat sebuah hadis perihal zuhud yang diriwayatkan Ibnu Abbas. Dari Ibnu Abbas, Sahl ibn Sa’d as-Saidi mengisahkan, seseorang pernah datang kepada Rasulullah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal perbuatan yang jika kulakukan, aku dicintai Allah dan dicintai sesama manusia.” Rasulullah menjawab, “Berzuhudlah dengan dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan berzuhudlah dengan apa yang dimiliki orang lain, niscaya engkau dicintai mereka.” Zuhud tak berarti hidup miskin dan hina. Sederhana saja, Imam Ahmad mendefinisikan zuhud dengan tidak serakah dan tidak menginginkan harta yang dimiliki orang lain. Ketika dunia ada dalam genggaman, ia tidak terlenakan oleh kenikmatan itu. Seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf, keduanya mampu memanfaatkan kelebihan rezeki dari Allah untuk mendukung perjuangan Islam. Orang yang miskin belum tentu zuhud, sedangkan orang yang kaya belum tentu tak zuhud. Sebab, zuhud hakikatnya tampak dalam sikap seseorang terhadap harta yang diberikan Allah. “Orang zuhud adalah jika mendapat nikmat, ia bersyukur dan jika ditimpa musibah, ia bersabar. Karena itu, orang zuhud senantiasa mendapati hidupnya dalam ketenangan. Dunia adalah fana, sedangkan akhirat abadi. Seorang hamba yang zuhud menyadari bahwa rezeki setiap hamba telah ditetapkan di sisi-Nya. Rezeki tidak akan bertambah atau berkurang, sekalipun kita mengejarnya dengan cara-cara yang tidak halal.(yuk).

No comments:
Post a Comment