SEKRETARIAT : JLN. GAJAHMADA NO. 100 GEDUNG GMSC KOTA MOJOKERTO TELP : 0822 3117 3218 Email : telecenterpalapakotamojokerto@gmail.com, Blogger : http://telecenterpalapa.blogspot.co.id/

Wednesday, March 20, 2019

DOA PANJANG UMUR ROSULLULAH DI BULAN RAJAB


MOJOKERTO – (GEMA – MEDIA) – Rajab merupakan bulan yang mengandung keberkahan. Umat islam dianjurkan untuk meraih berkah tersebut. Keberkahan bahkan tersebar di dua bulan setelah Rajab yaitu Sya’ban dan Ramadan. Tiga bulan ini memang istimewa bagi umat Islam.Sepanjang Rajab, kita sangat dianjurkan untuk memberbanyak amalan sholeh. Contohnya semakin giat sholat sunah, puasa sunah, membaca Alquran, berzikir, bersedekah, dan lain sebagainya. Kata Dra. Hj. Nur Hidayah Ketua Pengajian Wanita Alkholifah Kota Mojokerto  dalam acara pembinaan  rohani dan mental  Anggota Pengajian Wanita Alkholifah, Kamis (14/3/2019) bertempat di ruang Data PKK Kota Mojokerto. Nurhidayah menambahkan dalam bulan rajab  juga terdapat anjuran untuk berdoa memohon panjang umur. Ini semata agar kita dapat bertemu dengan tiga bulan berkah tersebut. Rosulluloh Nabi Muhammad SAW mempunyai doa yang dibaca setiap bulan rajab tiba. “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana.Artinya,” Ya Allah,  berkatilah kami pada Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami dengan Ramadan.”Doa ini agar kita dipertemukan dengan Rajab, Sya’ban dan Ramadan.
“kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan keimanan Anggota Alkholifah di Mojokerto ini menghadirkan Ustadz H. Rubani dengan taushiyah “ Kunci meraih cinta Allah dan manusia “.Zuhud adalah kunci untuk meraih cinta Allah dan sesama manusia. Imam Nawawi dalam al-Arba’in an-Nawawi mencatat sebuah hadis perihal zuhud yang diriwayatkan Ibnu Abbas. Dari Ibnu Abbas, Sahl ibn Sa’d as-Saidi mengisahkan, seseorang pernah datang kepada Rasulullah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal perbuatan yang jika kulakukan, aku dicintai Allah dan dicintai sesama manusia.” Rasulullah menjawab, “Berzuhudlah dengan dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan berzuhudlah dengan apa yang dimiliki orang lain, niscaya engkau dicintai mereka.” Zuhud tak berarti hidup miskin dan hina. Sederhana saja, Imam Ahmad mendefinisikan zuhud dengan tidak serakah dan tidak menginginkan harta yang dimiliki orang lain. Ketika dunia ada dalam genggaman, ia tidak terlenakan oleh kenikmatan itu. Seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf, keduanya mampu memanfaatkan kelebihan rezeki dari Allah untuk mendukung perjuangan Islam. Orang yang miskin belum tentu zuhud, sedangkan orang yang kaya belum tentu tak zuhud. Sebab, zuhud hakikatnya tampak dalam sikap seseorang terhadap harta yang diberikan Allah. “Orang zuhud adalah jika mendapat nikmat, ia bersyukur dan jika ditimpa musibah, ia bersabar. Karena itu, orang zuhud senantiasa mendapati hidupnya dalam ketenangan. Dunia adalah fana, sedangkan akhirat abadi. Seorang hamba yang zuhud menyadari bahwa rezeki setiap hamba telah ditetapkan di sisi-Nya. Rezeki tidak akan bertambah atau berkurang, sekalipun kita mengejarnya dengan cara-cara yang tidak halal.(yuk).

No comments:

Post a Comment