Menghadang arus globalisasi yang terus merangsek masuk
begitu cepatnya, sangat penting sekali membentengi diri dengan keimanan dan
taqwa kepada Allah SWT. Dengan dasar itulah, Majelis Ulama Indonesia Kota
Mojokerto melaksanakan sarasehan yang digelar di Pendopo Graha Praja Wijaya,
Pemkot Mojokerto, Jalan Gajah Mada no 145, Kota Mojokerto, Jawa Timur
(24/11/2018). Sarasehan bertajuk membentuk generasi milenial Islami
yang berwawasan luas, berakhlaq mulia, bertanggung jawab dan bertoleran,
menghadirkan dua narasumber yakni Kapolres Mojokerto Kota AKBP Sigit Dany
Setiyono, SH, SIK, M.Sc Eng dan pengurus MUI Provinsi Jawa Timur Prof. DR. KH.
A. Faishal Haq serta dihadiri oleh sekitar 80 undangan dari unsur organisasi
kepemudaan lembaga agama di Kota Mojokerto. Dalam kesempatan ini,
Kapolres Mojokerto Kota memberikan wawasan tentang pentingnya peran pemuda
dalam menjaga toleransi antar umat beragama. Hal ini disampaikan dengan latar
belakang bahwa pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa harus mempunyai
dasar yang kuat untuk menghadapi era milenial.
"Toleransi adalah dimana manusia mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang mana hal itu harus disadari dan semaksimal mungkin dijalankan sebagaimana mestinya," kata Sigit, sapaan akrab Kapolres Mojokerto Kota. Lanjutnya, kita mempunyai hak untuk melakukan sesuatu namun patut diingat bahwa disaat yang bersamaan, kita juga harus menjalankan kewajiban yaitu menghargai hak orang lain. Begitu juga sebaliknya, dimana hak kita bisa dihargai oleh orang lain. "Jika kita bisa menyadari adanya hak dan kewajiban masing-masing individu serta menghargainya, maka apa yang disebut toleransi antar umat beragama akan terwujud," tandasnya. Menurut Sigit, pemuda adalah subyek dalam terciptanya toleransi itu, karena pemuda memang menjadi tonggak awal untuk menciptakam sejarah di masa mendatang. Apa yang dilakukan oleh pemuda saat ini menentukan nasib bangsa dikemudian hari. "Jika pemuda tidak memahami apa arti toleransi, lalu bagaimana nasib bangsa ini kedepan, apakah mungkin bisa lebih baik dari sekarang atau sebaliknya. Oleh karena itu, penting kiranya peran pemuda sebagai garda depan dalam mengawal terwujudnya rasa toleransi agar kedepannya bangsa ini menjadi lebih baik lagi," pungkasnya. (Ron/ri)
"Toleransi adalah dimana manusia mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang mana hal itu harus disadari dan semaksimal mungkin dijalankan sebagaimana mestinya," kata Sigit, sapaan akrab Kapolres Mojokerto Kota. Lanjutnya, kita mempunyai hak untuk melakukan sesuatu namun patut diingat bahwa disaat yang bersamaan, kita juga harus menjalankan kewajiban yaitu menghargai hak orang lain. Begitu juga sebaliknya, dimana hak kita bisa dihargai oleh orang lain. "Jika kita bisa menyadari adanya hak dan kewajiban masing-masing individu serta menghargainya, maka apa yang disebut toleransi antar umat beragama akan terwujud," tandasnya. Menurut Sigit, pemuda adalah subyek dalam terciptanya toleransi itu, karena pemuda memang menjadi tonggak awal untuk menciptakam sejarah di masa mendatang. Apa yang dilakukan oleh pemuda saat ini menentukan nasib bangsa dikemudian hari. "Jika pemuda tidak memahami apa arti toleransi, lalu bagaimana nasib bangsa ini kedepan, apakah mungkin bisa lebih baik dari sekarang atau sebaliknya. Oleh karena itu, penting kiranya peran pemuda sebagai garda depan dalam mengawal terwujudnya rasa toleransi agar kedepannya bangsa ini menjadi lebih baik lagi," pungkasnya. (Ron/ri)

No comments:
Post a Comment