Kalau bukan gara-gara saya ini mahasiswa
baru angkatan tahun 2011, mungkin saya nggak bakalan bisa nulis kayak
beginian. Terlena terus-terusan di kota kelahiran. Menganggap kota ini
nggak ada spesialnya sama sekali. Ibarat itik, itik yang buruk rupa.
Walaupun
Mojokerto nggak se-terkenal Jombang dengan kota santrinya, Lamongan
dengan wisata baharinya dan Batu dengan kota wisatanya, tapi tetep aja,
Mojokerto itu kota terseksi se-Indonesia!
Mari kita bandingkan
dengan Surabaya (Karena saya kuliahnya disini, jadi contoh utamanya
adalah dia :D). Oke, dia memang Ibukota Jawa Timur dan memegang gelar
sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, segala fasilitas yang bersifat
rohani maupun duniawi tersedia lengkap disini. Ada masjid Agung, ada
pula masjid Nuruzzaman yang ada di kampus B. Nggak Cuma adem, tapi
arsitekturnya juga ciamik. Urusan duniawi apalagi, berbagai macam mall
dan harga barang dari yang paling murah sampai yang paling mahal pun
tersedia. Tunjungan Plaza yang udah ada sejak jaman ibuku remaja, sampai
Ciputra World yang baru seumur jagung pun menambah semarak kota
Surabaya. Eits, nggak Cuma mall lho, ada juga jembatan Suramadu, kebun
binatang (walaupun nasibnya sekarang sedang merana), sampai penghijauan
dimana-mana, nggak heran kalau barusan ini Surabaya merebut penghargaan
Adipura. Jadi menurutku, orang yang nyebut-nyebut Surabaya panas itu
patut dikoreksi. Panas apanya dulu nih? Di sepanjang jalan udah banyak
pohonnya lo. Bangga gila kan gue. Mungkin untuk urusan mandi aja yang
airnya udah nggak seger sama sekali. Tapi warga kota Surabaya masih jauh
lebih beruntung ketimbang Jakarta kan. Untuk lebih mengetahui
serba-serbi suarabaya, log on to www.transsurabaya.com ya. Toh, aku masih maba, jadi belum terlalu profesional menelusuri setiap lekuk kota Surabaya.
Sekarang
giliran Mojokerto. Kota yang pernah juga meraih gelar Adipura, tapi itu
jaman duluuuu sekali. Dan masih memegang rekor sebagai kota kecil
dengan penduduk terpadat di Indonesia. SMP Negerinya Cuma ada 9, SMAnya
Cuma ada 3. SMKnya apalagi malah Cuma ada 1. Beuh. Bisa membayangkan kan
bagaimana kecilnya kotaku ini? Perusahaan ritel sebesar carrefour baru
berumur 2 tahun berdiri disini. Tapi itu nggak mematikan pasar
tradisional kok, buktinya tiap hari mesti macet. Dan hebatnya pasar
tradisional disini adalah, buka 24 jam nonstop. Jadi nggak usah takut
kehabisan lombok dan brambang. Oke.
Tapi, kota Mojokerto adalah
kota penyangga terbaik buat Surabaya. Ibaratnya tuh kayak Depok,
Tangerang dan sekitarnya yang dijadikan kota Megapolitan untuk mendukung
Jakarta. Kereta Arek Surokerto (Angkutan Rakyat Ekonomi Kecil
Surabaya-Mojokerto), kereta yang beroperasi 5X sehari dan menghubungkan
mulai stasiun Mojokerto sampai stasiun Surabaya kota ini nggak pernah
sepi peminat. Padahal baru diresmikan tanggal 29 Agustus 2009. Tapi
popularitasnya udah mengalahkan seven icons.Harga tiketnya murah meriah
banget meen, cukup 3500 saja. Baru-baru ini jalan tol yang menghubungkan
Mojokerto-Surabaya udah diresmiin pula. Aku sendiri belum pernah
merasakan bagaimana rasanya jalan tol ini. Soalnya naik motor tidak
diperbolehkan, yang boleh hanya orang bermobil dan kendaraan berat
lainnya.
Tuh kan, spesial banget kan Mojokerto ini. Sampai-sampai
buat warga Mojokerto yang merantau ke Surabaya (aku, sebuah contoh
nyata) disediakan berbagai macam pilihan transportasi yang bisa ditempuh
dengan biaya semakin murah dan sangat memudahkan. Super sekali pak
mario. Kok mblarah ke Pak Mario (?)
Mungkin benar kata pepatah,
kita nggak akan pernah menyadari sesuatu itu berharga sebelum kita
kehilangan. Tapi aku benar-benar yakin kalau aku nggak bakalan
kehilangan mojokerto. Aku hanya pergi, untuk sementara, bukan tuk
meninggalkanmu tuk selamanya. #eaa. Lha kok malah nyanyi gini.
Yang jelas, sehebat-hebatnya Surabaya, Mojokerto tetap sang Juara. Sekali lagi ya, aku cinta banget dengan mojokerto. Never end.

No comments:
Post a Comment