MOJOKERTO-GEMA MEDIA : Sangat wajar jika masyarakat awan
menyimpulkan bahwa, trombosit rendah dianggap menderita Deman Berdarah Dengue
(DBD). Padahal tidak selamanya trombosit
rendah adalah penderita DBD, contohnya cancer.thypus gangguan fungsi lever dan
beberapa penyakit lainnya bisa juga menyebabkan trombosit menjadi rendah. Seperti halnya kasus yang dialami oleh
beberapa pasien di RSU Kota Mojokerto. Penderita demam tinggi dianggap sebagai
penderita DBD, padahal tidak selamanya demikian. Hal itu disampaikan oleh
Kadinkes Kota Mojokerto Dra. Cristiana Indah Wahyu Apt, M,Si saat mengunjungi
rumah duka almarhum Fendik Surya Ferianto 38 tahun, warga Miji Baru II
Kelurahan Miji Kecamatan Kranggan Kota Mojokerto yang meninggal 14/2/2019 kemarin.
Kehadiran Indah panggilan Kadinkes ini, selain ikut bela sungkawa juga untuk memastikan bahwa kematian Fendik bukanlah karena DBD. “Memang diagnosa RS saat itu ada DBD dan thypus, mengingat fendik telah dirawat dirumah sakit swasta selama 5 hari dan sudah pulang karena dokter sudah menyatakan sembuh.dengan indikasi vital sign sudah normal” tegas Indah. Masalah penggunaan foging, menurut Indah, fogging diperlukan apabila dinilai penyebarannya cepat. indikatornya di lingkungan itu ada 3 pasien DBD, kemudian masyarakat kerja bhakti baru difogging. Masyarakat memang bukan orang teknis medis, yang harus diperhatikan adalah bagaimana masyarakat itu sadar mengelola lingkungannya. Komponen utama untuk menjaga kesehatan dimuali dari keluarga baik itu penyebab DBD,diare, DD, atau dengue shock syndrome yang penting bagaimana mereka menjaga kebersihan lingkungan bebas dari jentik itu hal yang utama. “Jika keluarga bebas jentik berarti keluarga terhindar dari penyakit menular tidak hanya DBD tapi juga malaria, chikungunya ; filariasis atau kaki gajah ,japanes encephalitis dan penyakit menular lainnya yang vektornya atau perantaranya nyamuk” terang Indah. dari kanan: Kapus Mentikan, Kadinkes, Camat Kranggan dan Ny. Fendik alm-foto an Kita tidak bisa mengandalkan fogging masih kata Indah, karena fogging itu mengandung bahan racun yang bisa berdampak pada hewan dan juga pada manusia yang bisa menimbulkan keracunan. Fogging adalah pengasapan sementara jentik ada didalam air asap fogging tidak bisa membunuh jentik karena asapnya tidak bisa masuk dalam air, maka ketika nyamuk dewasa mati karena fogging akan segera digantikan jentik yang tumbuh jadi nyamuk dewasa yg tidak mati karena fogging. Oleh karena itu langkah yang paling efektif adalah gerakan PSN dan bersih-bersih lingkungan. “jangan hanya rumahnya saja yang bersih tetapi lingkungannya tidak, maka perlu adanya kerja bhakti lingkungan” katanya . Kunjungan Kadinkes pada jumat 15/2/2019 usai PSN kali ini di lingkungan penarip Kelurahan Kranggan, didampingi Kepala Puskesmas Mentikan dr. Lily Nurlaili, Camat Kranggan, Lurah Miji dan beberapa petugas sanitarian. Mengingat kondisi ini pada saat yang bersamaan petugas puskesmas bersama kader motivator memanfaatkan waktu untuk mengunjungi rumah warga sekitar, ternyata ditemukan positif jentik. Untuk ini Indah memita kepada Lurah Miji agar lebih intensif menggerakkan warganya untuk aktif kerja bhalti bersih-bersih lingkungan utamanya pada lahan kosong yang terdapat genangan air.(an)
Kehadiran Indah panggilan Kadinkes ini, selain ikut bela sungkawa juga untuk memastikan bahwa kematian Fendik bukanlah karena DBD. “Memang diagnosa RS saat itu ada DBD dan thypus, mengingat fendik telah dirawat dirumah sakit swasta selama 5 hari dan sudah pulang karena dokter sudah menyatakan sembuh.dengan indikasi vital sign sudah normal” tegas Indah. Masalah penggunaan foging, menurut Indah, fogging diperlukan apabila dinilai penyebarannya cepat. indikatornya di lingkungan itu ada 3 pasien DBD, kemudian masyarakat kerja bhakti baru difogging. Masyarakat memang bukan orang teknis medis, yang harus diperhatikan adalah bagaimana masyarakat itu sadar mengelola lingkungannya. Komponen utama untuk menjaga kesehatan dimuali dari keluarga baik itu penyebab DBD,diare, DD, atau dengue shock syndrome yang penting bagaimana mereka menjaga kebersihan lingkungan bebas dari jentik itu hal yang utama. “Jika keluarga bebas jentik berarti keluarga terhindar dari penyakit menular tidak hanya DBD tapi juga malaria, chikungunya ; filariasis atau kaki gajah ,japanes encephalitis dan penyakit menular lainnya yang vektornya atau perantaranya nyamuk” terang Indah. dari kanan: Kapus Mentikan, Kadinkes, Camat Kranggan dan Ny. Fendik alm-foto an Kita tidak bisa mengandalkan fogging masih kata Indah, karena fogging itu mengandung bahan racun yang bisa berdampak pada hewan dan juga pada manusia yang bisa menimbulkan keracunan. Fogging adalah pengasapan sementara jentik ada didalam air asap fogging tidak bisa membunuh jentik karena asapnya tidak bisa masuk dalam air, maka ketika nyamuk dewasa mati karena fogging akan segera digantikan jentik yang tumbuh jadi nyamuk dewasa yg tidak mati karena fogging. Oleh karena itu langkah yang paling efektif adalah gerakan PSN dan bersih-bersih lingkungan. “jangan hanya rumahnya saja yang bersih tetapi lingkungannya tidak, maka perlu adanya kerja bhakti lingkungan” katanya . Kunjungan Kadinkes pada jumat 15/2/2019 usai PSN kali ini di lingkungan penarip Kelurahan Kranggan, didampingi Kepala Puskesmas Mentikan dr. Lily Nurlaili, Camat Kranggan, Lurah Miji dan beberapa petugas sanitarian. Mengingat kondisi ini pada saat yang bersamaan petugas puskesmas bersama kader motivator memanfaatkan waktu untuk mengunjungi rumah warga sekitar, ternyata ditemukan positif jentik. Untuk ini Indah memita kepada Lurah Miji agar lebih intensif menggerakkan warganya untuk aktif kerja bhalti bersih-bersih lingkungan utamanya pada lahan kosong yang terdapat genangan air.(an)

No comments:
Post a Comment