WALIKOTA MOJOKERTO RESMIKAN INSTALASI PENGELOLAAN BIOGAS DAN
PUPUK ORGANIK UPT RUMAH POTONG HEWAN MOJOKERTO KOTA:Sesuai dengan tema
peringatan hari jadi Kota Mojokerto ke 99 tahun 2017, sebagai Kota yang
berkreasi, berinovasi dan berprestasi. Tampaknya semangat ini dijiwai oleh
seluruh elemen warga Kota Mojokerto. Hal ini dapat terlihat dengan munculnya
prestasi yang diraih oleh Pemerintah Kota Mojokerto berupa kinerja pemerintahan
terbaik keempat se Indonesia tahun 2017, diraihnya pula predikat Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) atas hasil Pemeriksaan Keuangan oleh BPK dan masih banyak
prestasi lainnya. Demikian juga dengan inovasi yang terus dilakukan baik oleh
masyarakat maupun Organissi Perangkat Daerah (OPD). Seperti halnya UPT Rumah
Potong Hewan (RPH), telah berinovasi dengan mengelola limbah sapi.
Selama ini kotoran sapi yang akan dipotong belum terkelola dengan baik. Bahkan nyaris mencemari lingkungan sekitar termasuk sumber air warga setempat. Maghfur, SH,M.Si Kepala UPT RPH Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Mojokerto menjelaskan, tujuan pembangunan instalasi biogas ini adalah untuk memanfaatkan limbah organik yang berasal dari kotoran sapi yang berada di UPT RPH yang menjadi sumber energi alternatif dan terbaru yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Lebih teknis Magfur menjelaskan, pada awal membangun kuba penangkap biogas dengan volume 25 m 3 dan hasil jangkauan aliran gas mencapai 100 m lebih dengan tekanan maksimal 100 Psi. Untuk sementara ini dapat memberi sambungan keluarga sebanyak 5 (lima) rumah tangga. UPT Rumah Potong Hewan sebagai unit layanan penyedia daging yang aman, sehat, utuh, dan halal ternyata juga menghasilkan limbah organik yaitu dalam bentuk gas, cair, padat sehingga sangat disayangkan jika dibuang begitu saja, padahal masih bisa dimanfaatkan lagi untuk kesejahteraan warga. Oleh karena itu UPT Rumah Pemotongan Hewan terus berinovasi mengolah isi jerohan lambung sapi atau disebut Rumen untuk menjadi pupuk kompos, menampung sisa tangkapan biogas slurry menjadi pupuk organik cair. Hasil pupuk cair ini nantinya dapat berikan kepada masyarakat petani perkotaan. Bukan hanya yang mengelola persawahan akan tetapi masyarakat perkampungan yang sedang melakukan kegiatan penghijauan.
Pengelolaan dan
pemanfaatan limba tersebut sesuai dengan konsep “zero waste” artinya tidak ada
yang terbuang bahkan ramah lingkungan dalam mendukung program Pemerintah Kota
Mojokerto menuju Kota sehat. R.Happy Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan
Pertanian Kota Mojokerto saat dikonfirmasi menjelaskan, bahwa kedepan UPT Rumah
Potong Hewan bertekad senantiasa meningkatkan mutu layanan dan terus berinovasi
selain sebagai penyedia daging juga siap sebagai pusat bisnis turunan hasil
peternakan serta menjadi wahana edukasi bagi pelajar dan masyarakat pada mmnya.
Terkait dengan pengelolaan limbah/kotoran sapi ini, Heppy berharap agar setiap
peternak di Kota ini bisa difasilitasi sarana pengelolaannya. Sehingga selain
bersih dan tidak menggangu lingkungan, juga hasil biogasnya dapat dimanfaatkan
oleh rumahtanga tersebut. Secara teknis kebutuhan bahan baku vieces (kotoran
sapi) setiap hari untuk 10 kibik menghasilkan gas yang dapat disambungkan ke 5
(lima) rumah tangga. Sedangkan 1 (satu) ekor sapi pada umumnya mampu
mengkasilkan 1 (satu) kibik perhari. Sehingga sedikitnya ada 10 (sepuluh) sapi,
tambah Ismari konsultan teknik selaku mintra UPT Rumah Potong Hewan. Suasana
bulan puasa pagi itu tepatnya hari kamis, 8/6/2017 berlangsung ceria dan semua
bersemangat mengikuti dan menyaksikan peresmian Instalasi pengelolaan biogas
dan pupukorganik yang sedang disesmikan oleh Walikota Mojokerto. Invovasi ini
tentu mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para pihak, yang turut serta
hadir Kapolres Mojokerto Kota, Kajari Kota Mojokerto,jajaran Kodim, Korem dan
Koamil di wilayah Kecamatan magrsari, demikian juga pimpinan Organisasi
Perangkat Darah turut serta mendukung atas inovasi yang kreatif ini. Peresmian
ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Walikota Mojokerto yang
didampingi oleh Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian serta disaksikan oleh
hadiri tamu undangan lainnya. Walikota Mojokerto dalam sambutannya menyambut
gembira adanya inovasi yang dilakukan oleh UPT RPH, diharapkan OPD-OPD lainnya
juga memiliki kreativitas sesuai dengan tugas dan fungsinya serta disesuaikan
dengan stuasi dan kondisi lingkungan. selesai penandatangan prasasti Walikota
diikuti oleh seluruh tamu undangan menuju warung rumah penjaga untuk melihat
langsung penggunaan energi alternatif yang berbahan limbah sapi. Ternyata
sangat mentakjubkan begitu kompor dua tungku itu dinyalakan langsung api
menyala dengan warna biru dilanjutkan dengan menyalakan lampu petromak yang
juga berbahan energi yang sama. Sesudah itu Walikota juga melihat kemasan pupuk
kompos yang sudah dikemas tapi belum memiliki lebel nama. Untuk pupuk kompos
dan cair ini RPH masih menunggu hasil uji laboratorium tentang keamanan dan
keabsahan produk alaimi tersebut. Tanpa melalui proses uji lab, pihak RPH belum
berani memberikan kepada masyarakat yang membtuhkan. Namun RPH berjanji ketika
sudah layak pakai, maka masyarakat bisa memintanya secara gratis.(ri)
Selama ini kotoran sapi yang akan dipotong belum terkelola dengan baik. Bahkan nyaris mencemari lingkungan sekitar termasuk sumber air warga setempat. Maghfur, SH,M.Si Kepala UPT RPH Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Mojokerto menjelaskan, tujuan pembangunan instalasi biogas ini adalah untuk memanfaatkan limbah organik yang berasal dari kotoran sapi yang berada di UPT RPH yang menjadi sumber energi alternatif dan terbaru yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Lebih teknis Magfur menjelaskan, pada awal membangun kuba penangkap biogas dengan volume 25 m 3 dan hasil jangkauan aliran gas mencapai 100 m lebih dengan tekanan maksimal 100 Psi. Untuk sementara ini dapat memberi sambungan keluarga sebanyak 5 (lima) rumah tangga. UPT Rumah Potong Hewan sebagai unit layanan penyedia daging yang aman, sehat, utuh, dan halal ternyata juga menghasilkan limbah organik yaitu dalam bentuk gas, cair, padat sehingga sangat disayangkan jika dibuang begitu saja, padahal masih bisa dimanfaatkan lagi untuk kesejahteraan warga. Oleh karena itu UPT Rumah Pemotongan Hewan terus berinovasi mengolah isi jerohan lambung sapi atau disebut Rumen untuk menjadi pupuk kompos, menampung sisa tangkapan biogas slurry menjadi pupuk organik cair. Hasil pupuk cair ini nantinya dapat berikan kepada masyarakat petani perkotaan. Bukan hanya yang mengelola persawahan akan tetapi masyarakat perkampungan yang sedang melakukan kegiatan penghijauan.

No comments:
Post a Comment